Data Center Indonesia
Others

Bagaimana Cara Memanajemen Daya Data Center Indonesia?

Bagi perusahaan, peran data center Indonesia sangat besar karena tidak hanya memproses data, tetapi juga menyimpan data sebagai aset penting. Misal dalam suatu marketplace, maka data-data seperti jam beli pengunjung, data transaksi, serta kebiasaan pengunjung akan terekam secara sempurna di pusat data. Lalu, bagaimana cara memanajemen dayanya?

Menggunakan Tenaga Listrik yang Tepat

Kisah-kisah seperti downtime yang terjadi pada pusat data sangat meresahkan. Terutama untuk perusahaan besar yang sehari-harinya melibatkan transaksi lebih dari 30 miliar Rupiah. Hal tersebut pernah dialami oleh marketplace besar Indonesia seperti Tokopedia dan Bukalapak. Alhasil, dalam beberapa jam saja sudah rugi miliaran Rupiah.

Sebetulnya, jenis tenaga listrik yang digunakan sangat mempengaruhi manajemen daya pada pusat data. Biasanya menggunakan jenis DC atau AC. Penggunaan keduanya pun bervariasi tergantung oleh organisasi yang menggunakannya. Beban-beban yang ditimbulkan secara umum berasal dari jenis aplikasi yang dimiliki.

Posisi Suhunya

Faktor suhu sangat penting untuk mengefisiensikan daya pusat data karena berfungsi sebagai denominator. Pada AC atau pendinginan normal terhadap ruang komputer itu tidak akan cukup untuk server dengan kepadatan yang tinggi. Soalnya pusat data mana pun memerlukan tingkat akurasi yang tinggi terhadap kontrol suhu di dalam ruangan.

Kebergunaan pusat data juga terpengaruh oleh posisi suhu yang ada. Selalu ada norma-norma standar semisal inlet serta outlet suhu yang ditetapkan PUE. Pada suhu inlet, depan rak memerlukan suhu sampai dengan 21 derajat Celsius. Maksimalnya hanya diperbolehkan menjadi 1 derajat norma.

Sedangkan untuk outlet, norma atau aturan suhunya bisa sampai 31 derajat Celsius atau sampai dengan 32 derajat Celsius. Untuk perbedaan antara inlet maupun outlet sendiri harus 10 derajat Celsius. Khusus untuk Comfort ACS atau CRAC, justru tidak memiliki toleransi terhadap pendingin secara presisi.

Terutama karena fungsinya dalam mengoptimalkan manajemen pusat data mengingat jumlahnya meningkat dan lebih panas. Keadaan stres yang diletakkan pada pendingin presisi bisa menangani beban panas besar sebagai efek dari infrastruktur TI. Jadi, beda jenis beda penempatan norma.

Aturan Kelembapannya

Agar daya pada data center Indonesia bisa berfungsi secara ideal, maka kelembapan ruangan harus 50%. Itu ketika pusat data diletakkan di tempat secara random atau acak. Sedangkan untuk tempat yang cukup terik seperti di pesisir, maka kelembapannya naik jadi 70% sampai dengan 80%. Sedangkan di musim hujan itu bisa hingga 90%.

Kelembapan yang Anda ciptakan akan menyebabkan kondensasi dan baik untuk kelanggengan pusat data yang telah terbangun. Sedangkan kondisi yang serba kekeringan justru akan menciptakan discharge elektrostatik. Bahkan untuk yang suhunya sangat tinggi bisa menyebabkan booting system dan akhirnya terjadi kesalahan teknis.

Memelihara Keadaan Server

Jika Anda mengamati kemajuan teknologi yang ada, maka akan didapati bahwa sebelumnya ada server 1U serta rak yang dinamakan dengan 42U. Jadi, dalam satu rak itu mampu menumpuk sampai dengan 42 server. Hal itu terjadi pada setiap server independen dengan CD-ROM, fans, dan lain-lain.

Salah satu cara untuk memelihara server dari gangguan demi gangguan itu dengan mengkonsolidasikan server secara maksimal. Jadi, ketika kepadatan panas di server blade naik, maka harus ada optimasi server serta ruang tabungan agar bisa menghemat daya pada pusat data.

Rumit, ya? Ada sih cara yang tidak rumit dan hanya perlu mengoperasikan saja. Caranya dengan menggunakan fasilitas layanan data center Indonesia dari Lintasarta. Soal pembangunan infrastrukturnya, sudah difasilitasi oleh Lintasarta dalam satu paket. Lintasarta juga bertugas menjaga kelancaran proses serta penyimpanan data.